Kritik, Perjalanan

Belajar Menikmati Rasa Syukur

Belajar Menikmati Rasa Syukur

Pagi ini, saya menuju pulang dari Bandung. Karena lapar maka carilah sarapan. Ketemu warung Bubur Ayam Cianjur dipinggir jalan sebelum masuk jalan tol. Yaaaa pucuk dicinta ulam tiba. 

Sudah ada 3 orang Bapak yang juga sedang duduk menikmati rokok, kemungkinan besar selesai sarapan juga. Saya sapa pedagangnya dan ketika duduk, saya sapa 3 Bapak ini.

“Pulang kerja Pak?”, tanyaku.
“Iya Mas..”, jawab salah satu mereka.. 
“Pulangnya kemana Pak?”, sambungku basa basi.
“Ke Sunter Jakarta Mas..”, jawab mereka serempak.
“Loh kok jauh banget?”, kataku kaget.
“Anu Mas, baru selesai antar mobil ke dealer sini dari Jakarta”, jawab salah satu.
“Oh kalau gitu nanti bareng saya saja, saya pulang ke Bekasi dan sendirian..”, kataku.
“Masnya supir grab atau gojek?”, kata Bapak didepanku
“Begitulah Pak, yang onlen-online gitu… Demi menyambung hidup”, jawabku.

Dianggap tukang parkir saja sudah senang banget, ini dianggap supir onlen, duh makin senang.

Singkat cerita, saya sudah satu mobil bersama dengan Bapak-bapak ini menuju Bekasi. Sepanjang perjalanan diwarnai perkenalan dan candaan tentang suka duka menjadi bagian pelaku transportasi di Indonesia. 

Tak sedikit juga meluncur cerita tentang kampung beliau masing-masing. Ternyata ada satu Bapak yang satu kampung dengan mertuaku, dari Tegal. Wah langsung serasa ketemu saudara. 

Saya salut dengan beliau-beliau ini, meski pekerja kasar dan keras setiap harinya, mengantarkan mobil dari satu kota ke kota lain bahkan lintas pulau namun mereka jalani hingga puluhan tahun dan hepi saja. 

“Pokoke disyukuri Mas…”, kata Pak Pangut yang dari Banyumas. 
“Iya, disyukuri saja. Seperti kita punya Presiden sekarang ini..”, kata Pak Agus.

Saya kaget dan noleh ke beliau sembari mengucap: “Toooss jempol Pak…” 

Beliau bertiga pun langsung tos jempol bersamaku dengan ketawa sembari mengeluarkan ujaran-ujaran kenapa mereka mensyukuri memiliki Presiden Jokowi. Baginya, semua manusia punya kekurangan.

Salah satu yang sangat saya ingat adalah “saya dulu mengirim mobil dari Jakarta ke Surabaya itu 18 jam, biaya jatuhnya lebih mahal dan lelah.. Sekarang cuma 11-12 jam, terima kasih Pak Jokowi”. 

Saya tidak ada niat untuk mempengaruhi beliau-beliau ini soal Pilpres, karena buatku menawarkan tebengen kepada orang sudah menjadi kebiasaan. 

Lihatlah wahai orang-orang berpendidikan tinggi. Orang-orang ini pekerja kasar dan separuh hidupnya di jalanan, sangat pandai bersyukur. Diambilnya sisi baik agar tetap bisa berpikir positif. 

Dan keriangan ini menjadi kaku ketika mereka tahu kalau istriku dokter. 

“Wah njenengan bukan sopir onlen yaa… Aduh maaf ya Mas..” ucap beliau-beliau ini serempak. 

Padahal, saya yang merasa kecil sekali dihadapan beliau-beliau ini. Karena masih terlalu banyak mengeluh. 

Tabik Pak.

Tagged , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.